Bumi Ini Milik-Mu


"Betapa banyaknya perbuatan-Mu, ya Tuhan, segala Kau jadikan dengan hikmat, bumi penuh dengan ciptaan-Mu." (Mazmur 104:24)

Jika kita melayangkan pandangan ke sekeliling kita—dari bentang alam pegunungan yang kokoh, hamparan sawah yang menghijau, hingga keteraturan musim yang kita alami sehari-hari—kita sedang menyaksikan sebuah mahakarya. Pemazmur dalam Mazmur 104 tidak sekadar mengagumi keindahan alam secara estetis, melainkan sedang menaikkan pujian teologis yang sangat dalam. Ia menyadari bahwa setiap jengkal dari alam semesta ini memancarkan sidik jari Allah.

Ada tiga perenungan penting yang bisa kita petik dari Mazmur 104:24 mengenai hubungan kita dengan bumi ciptaan Tuhan ini:

1. Bumi dan Segala Isinya adalah Ciptaan Tuhan

Kalimat "Betapa banyaknya perbuatan-Mu... bumi penuh dengan ciptaan-Mu" menegaskan status kepemilikan. Bumi ini bukan milik manusia; bumi ini milik Tuhan. Manusia sering kali bertindak seolah-olah mereka adalah pemilik mutlak yang bebas mengeksploitasi alam demi keserakahan sesaat. Namun, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa kita hanyalah pengelola (penatalayan) yang dipercayakan untuk menjaga milik-Nya. Roh Allah yang menghidupkan kita adalah Roh yang sama yang memelihara dan memperbarui muka bumi ini.

2. Diciptakan dengan Hikmat untuk Dirawat dengan Baik

Pemazmur mencatat bahwa segala sesuatu "Kau jadikan dengan hikmat (kebijaksanaan)." Tidak ada satu pun ciptaan Tuhan yang sia-sia atau produk gagal. Keteraturan ekosistem—bagaimana air mengalir, pohon menghasilkan oksigen, dan tanah memberi buah—adalah wujud hikmat Ilahi. Menghargai hikmat Tuhan berarti kita wajib merawat dan memelihara bumi ini dengan baik. Ketika kita merusak alam, membuang sampah sembarangan, atau mencemari lingkungan, kita sedang merusak keteraturan yang telah dirancang Tuhan dengan penuh kebijaksanaan. Merawat bumi adalah bagian integral dari ibadah dan penghormatan kita kepada Sang Pencipta.

3. Menjaga Bumi Menurut Kearifan Lokal

Di Indonesia, khususnya di wilayah tempat kita hidup dan mengakar, Tuhan telah menganugerahkan kearifan lokal yang sarat akan nilai-nilai luhur dalam menjaga alam. Masyarakat adat dan budaya lokal kita sering kali memiliki tradisi yang menghormati tanah, hutan, dan sumber air. Sebagai umat beriman, kita dipanggil untuk mengintegrasikan iman Kristen dengan kearifan lokal yang positif tersebut. Kearifan lokal adalah cara praktis dan kontekstual yang diwariskan leluhur kita untuk menopang kehidupan bersama secara seimbang. Menjaga bumi dengan cara menghormati aturan-aturan pelestarian lokal adalah wujud nyata dari iman yang membumi.

Bumi ini bentuk kebaikan Tuhan yang tidak pernah berhenti memelihara hidup kita. Roh-Nya memberi kita napas, dan bumi-Nya memberi kita makan. Oleh karena itu, mari kita ubah cara pandang kita terhadap lingkungan. Jangan lagi melihat alam sebagai objek untuk dikuasai, melainkan sebagai sesama ciptaan yang harus dijaga kelestariannya. Setiap tindakan kecil kita—mulai dari menghemat air, menanam pohon, hingga menjaga kebersihan lingkungan sekitar kita—adalah bentuk khotbah tanpa kata yang menyatakan bahwa: Bumi ini milik Tuhan, dan kita menghargai hikmat-Nya. (Gloria Kristianti).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JUDOL KOK ENAK YA?..

KAPAN PUNYA ANAK????

Berserah dalam Anugerah